PENDEKATAN DALAM MANAJEMEN KELAS
A.
PENGERTIAN
PENDEKATAN MANAJEMEN KELAS
Ricky
W. Griffin mendefinisikan manajemen sebagai sebuah proses perencanaan,
pengorganisasian, pengkoordinasian, dan pengontrolan sumber daya untuk mencapai
sasaran secara efektif dan efesien. Efektif berarti bahwa tujuan dapat dicapai
sesuai dengan perencanaan, sementara efisien berarti bahwa tugas yang ada
dilaksanakan secara benar, terorganisir, dan sesuai dengan jadwal.
Pendekatan
adalah usaha / upaya dalam rangka aktivitas yang dilakukan untuk mengadakan
hubungan dengan sesuatu yang menjadi objeknya (siswa) melalui interaksi timbal
balik.
Managemen
kelas pengelolaan, penyelenggaraan, keterlaksanaan penggunaan sumber daya
secara efektif untuk mencapai tujuan atau sasaran yang diinginkan.
Pendekatan
yang dilakukan oleh seorang guru dalam managemen kelas akan sangat dipengaruhi
oleh pandangan guru tersebut terhadap tingkah laku siswa, dan situasi kelas
pada waktu seorang siswa melakukan penyimpangan. Keharmonisan hubungan guru dan
siswa, tingginya kerjasama di antara siswa tersimpul dalam bentuk interaksi.
Lahirnya interaksi yang optimal bergantung dari pendekatan yang guru lakukan
dalam rangka pengelolaan kelas.
Pendekatan
yang dipilih guru senantiasa diselaraskan dengan kebutuhan dan karakteristik
siswa. pendekatan pada dasarnya dielompokkan menjadi dua yaitu pendekatan
managerial dan pendekatan psikologikal. Tetapi dalam makalah ini yang dibahas
hanya pendekatan dalam kelompok managerial.
B.
SIKAP
GURU DALAM MANAJEMEN KELAS
Menurut Djamarah
(2006 : 185) sikap guru dalam manajemen kelas yaitu
1. Hangat
dan antusias, guru yang hangat dan akrab pada siswa akan menunjukkan antusias
pada tugasnya,
2. Menggunakan
kata – kata, tindakan, cara kerja dan bahan – bahan yang menantang akan
meningkatkan kegairahan siswa untuk belajar,
3. Bervariasi
dalam penggunaan alat atau media pola interaksi antara guru dan siswa,
4. Guru
luwes untuk mengubah strategi mengajarnya,
5. Guru
harus menekankan pada hal – hal yang positif dan menghindari pemusatan
perhatian pada hal – hal yang negatif dan
6. Guru
harus disiplin dalam segala hal.
C.
PERAN
GURU DALAM MANAJEMEN KELAS
Adapun peran guru
dalam memenej kelas agar tercipta pembelajaran yang efektif sebagai
berikut:
1.
Peran guru dalam pengorganisasian
kelas
Organisasi kelas yang
tepat akan mendorong terciptanya kondisi belajar yang kondusif.
Pengorganisasian kelas ini pada dasarnya bersifat lokal, artinya organisasi
kelas tergantung guru, kelas, murid, lingkungan kelas, besar ruangan,
penerangan, suhu, dan sebagainya. Kita ketahui pada saat ini penataan kelas
secara tradisional yang menempatkan satu meja guru berhadapan dengan meja kursi
siswa. Kelas yang ditata secara tradisional tersebut menempatkan guru sebagai
pusat kegiatan dan sentra perhatian murid tampak sebagai objek pengajaran bukan
sebagai subjek yang belajar. Akibatnya aktivitas sebagian besar dilakukan guru
sedang murid hanya pasif menerima.
a.
Kelas terbuka
Kelas dapat terdiri
dari siswa dengan berbagai tingkat kelas berbeda. Pelaksanaan model ini dapat
dilaksanakan di Indonesia, jika jadwal pelajaran kelas 1 sampai kelas 6 sama
atau diterapkan di kelas tinggi saja. Misalnya: pada waktu jam pelajaran Bahasa
Indonesia, maka seluruh guru mengajar pelajaran tersebut, sedang siswa masuk ke
kelas di mana siswa menguasai tingkatan yang dicapai. Dengan demikian ada siswa
pada mata pelajaran Bahasa Indonesia masuk kelas III, tetapi pada waktu
Matematika masuk kelas IV, dan mungkin pada pelajaran IPS ke kelas V. Konsep
ini mengikuti perkembangan masing-masing individu.
b.
Kelas dua tingkat
Konsep ini dilaksanakan
dengan cara seorang guru menghadapi kelompok siswa yang berbeda kelas tetapi
berdekatan, misalnya: kelas I dan II, II dan III, III dan IV, dan seterusnya.
c.
Kelas awal
Pembelajaran dengan
pendekatan integral atau terpadu dengan kehidupan anak pada tahap
pelaksanaannya menerpadukan berbagai konsep, topic, bahan pelajaran dengan
mengurangi sedikit mungkin pemisahan-pemisahan secara artificial, bila
dimungkinkan guru tidak melabel bahan kajian dalam mata pelajaran-mata
pelajaran. Pembelajaran dikemas menjadi satumodel pembelajaran yang utuh
sehingga pemaknaan terhadap bahan kajian menjadi alami. Hal ini terjadi karena
anak belajar secara keseluruhan dalam hubungan dengan kehidupan akan lebih
mudah dibanding belajar dengan pemisahan-pemisahan secara artifisial yang tak
bermakna.
2. Peran
guru dalam pengaturan tempat duduk
Penataan kelas
sebagaimana diuraikan pada pengorganisasian kelas ditata fleksibel yang mudah
diubah sesuai pembelajaran yang akan dikembangkan guru. Penataan tempat duduk
dapat berbentuk :
a. Seating
chart
Penempatan murid dalam
kelas dibuat suatu denah yang pada satu periode waktu tertentu dapat diubah
sesuai tuntunan pembelajaran yang sedang dikembangkan oleh guru, sehingga
perkembangan dan pertumbuhan murid tidak terganggu. Penataan tempat duduk yang
didesain dalam chart dapat digambar sendiri oleh murid atau sekelompok murid
secara bergilir, sehingga keterbatasan penataan tempat duduk secara tradisional
ini dapat diminimalkan pengaruh buruknya. Penataan dan gambar desain
dilaksanakan secara bergilir, sehingga setiap kelompok mempu menuangkan idenya
dan mengembangkan iklim demokrasi di kelasnya, sehingga sikap menghargai
pendapat orang lain dengan menghilangkan pandangan mereka sendiri.
b. Melingkar
Model duduk seperti ini
dapat digunakan guru dalam pembelajaran diskusi kelompok, sehingga ada
modifikasi untuk menghilangkan kejenuhan siswa.
c. Tapal
kuda
Model ini sesuai untuk
melaksanakan diskusi kelas yang dipimpin oleh guru atau ketua diskusi yang
dipilih siswa. Diskusi kelas akan meningkatkan keberanian dibanding keberanian
yang hanya muncul pada kelompok kecil.
3. Peran
guru dalam pengaturan alat-alat pelajaran
Alat-alat pelajaran
dapat klasifikasikan menjadi beberapa kelompok, antara lain: Menurut
kedudukannya; alat pelajaran dibedakan atas permanen dan tidak permanen.
Permanen jika alat pelajaran tersebut diletakkan di kelas secara terus menerus,
misalnya: listrik, papan tulis, dan sebagainya. Alat pelajaran tidak permanen
atau yang bergerak (movable) yaitu alat pelajaran yang dapat dipindah,
misalnya: kursi, OHP, mesin-mesin, peta, dan sebagainya. Menurut fungsinya; a)
alat untuk menulis; kapur, papan tulis, pensil, dan lain-lain; b) alat-alat
lukis; jangka, meter, segitiga, buku.
4. Peran
guru dalam pemeliharaan keindahan ruangan kelas
Motto yang menyatakan
“bersih adalah sehat dan rapi adalah indah” merupakan hal yang tidak dapat
dipungkiri. Setiap manusia memiliki cita rasa keindahan walaupun derajat
keindahannya berbeda. Keindahan akan memberikan rasa nyaman dan membuat anak
betah tinggal di tempat tersebut. Kelas yang diharapkan mengundang anak untuk
betah berada di dalamnya hendaknya dijaga kebersihan dan keindahannya. Guru
memiliki peran untuk mengorganisir siswanya agar dapat mendesain kelasnya
menjadi kelas yang indah.
5. Cahaya,
Ventilasi, Akustik dan Warna
Kelas yang terlalu
terang atau terlalu gelap kurang mendukung pembelajaran. Anak SD berada pada
tahap perkembangan yang menentukan, untuk itu menjaga kesehatan anak merupakan
salah satu tugas managemen kelas oleh guru (Suharsimi Arikunto, 1989: 77).
Kelas harus cukup memiliki ventilasi untuk pertukaran udara sehingga anak
merasa sejuk dan nyaman tinggal di kelas. Guru sering kurang menyadari ruangan
yang terang tetapi jendela tidak dibuka serta kurangnya ventilasi menjadikan
suara guru bergema, akibatnya anak kurang mampu memusatkan perhatian
pendengarannya pada suara guru, sebab terganggu oleh gema suara. Untuk itu
disamping membuka jendela digunakan untuk pertukaran udara, maka juga berfungsi
sebagai sarana untuk mengurangi gema. Warna disamping memiliki arti juga
membawa kesan terhadap orang yang melihat. Dinding sekolah atau kelas
berpengaruh terhadap siswa. Pemilihan warna sering tidak melibatkan guru
apalagi murid, sehingga kadang guru sendiri tidak betah tinggal di kelasnya.
D.
MACAM-MACAM
PENDEKATAN DALAM MANAJEMEN KELAS
Menurut Syaiful Bahri
Djamarah (2006:33) adapun pendekatan dalam manajemen kelas :
1. Pendekatan
otoriter
Pendekatan otoriter
memandang bahea manajemen kelas sebagai suatu pendekatan pengendalian peserta
didik oleh seorang guru.
2. Pendekatan
intimidasi
Pendekatan intimidasi
adalah pendekatan yagn memandang manajemen kelas sebagai proses pengendalian
perilaku peserta didik.
3. Pendekatan
permisif
Pendekatan permisif
adalah pendekatan yang menekan perlunya memaksimalkan kebebasan peserta didik.
4. Pendekatan
buku masak
Pendekatan buku masak
adalah pendekatan yang berbentuk rekomendasi berisi daftar hal-hal yang harus
dilakukan atau yang tidak harus dilakukan oleh seorang guru apabila menghadapi
berbagai tipe masalah manajemen kelas.
5. Pendekatan
intruksional
Pendekatan intruksional
adalah pendekatan yang mendasarkan pada pendirian bahwa pengajaran yang
dirancang dan dilaksankan dengan cermat akan mencegah timbulnya sebagian besar masalah
manajemen kelas.
6. Pendekatan
Pengubahan Perilaku
Didasarkan pada
prinsip-prinsip psikologi behaviorisme.
7. Pendekatan
iklim Sosio-Emosional
Pendekatan iklim
sosio-emosional dalam manajemen kelas berakar pada psikologi penyuluhan
klinik, karena itu memberi arti yang sangat penting pada hubungan antar
pribadi.
DAFTAR
PUSTAKA
Rusman, 2013.
Model-Model Pembelajaran. Raja Grafindo: Jakarta.
Syahza Almasdi, 2009.
Model-Model Pembelajaran, FKIP UNRI, Riau.
Usman, Moh. Uzer.
(2002). Menjadi guru profesional. Bandung : Remaja Rosda
Materi ny bagus
BalasHapus