FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI BELAJAR DI KELAS
A.
FAKTOR YANG
MEMPENGARUHI BELAJAR
Saat proses belajar dapat terjadi berbagai hambatan,
itulah salah satu bunyi dari prinsip pembelajaran. Untuk dapat mengetahui dan
mengatasi hambatan- hambatan maka kita harus berfikit mengenai faktor- faktor
apa saja yang dapat mempengaruhi suatu proses belajar dan pembelajaran. Setelah
mengetahui berbagai prinsip pembelajaran, kita dapat menganalisa lebih jauh
mengenai factor- faktor yang dapat berpengaruh pada saat proses belajar. Di
prinsip-prinsip pembelajaran kita mengetahui bahwa belajar membutuhkan proses,
interaksi, motivasi, lingkungan, dll. Kali ini kita akan bahas dalam konteks
faktor-faktor yang dapat berpengaruh saat proses belajar dan pembelajaran.
Faktor-faktor tersebut adalah:
1.
Faktor
Individu/Internal
a.
Keadaan jasmani.
Apabila
seorang individu berada dalam keadaan yang kurang sehat maka proses belajar
akan sedikit terhambat. Berbeda halnya dengan seseorang yang dalam keadaan
sehat akan dapat melakukan proses pembelajaran dengan lebih efektif. Maka dari
itu, guru yang mengetahui ada sisiwanya yang sakit, sebaiknya menyuruh
sisiwanya untuk beristirahat.
b.
Keadaan fungsi
jasmani.
Ini
berkaitan dengan fungsi alat tubuh seseorang, seperti pengelihatan,
pendengaran, lisan, dll yang keberadaannya sangat berpegnaruh saat proses belajar.
c.
Keadaan psikologis.
Ini sangat erat kaitannya dengan beberapa hal dibawah
ini:
1)
IQ atau kecerdasan
siswa.
IQ
adalah kecerdasan bawaan yang dimiliki oleh seseorang. IQ biasanya
mengindikasikan kecepatan menghitung dan pemahaman materi yang diajarkan.
2)
Motivasi Belajar
siswa.
Motivasi
akan sangat berpengaruh bagi setiap siswa, karena motivasi salah satu fungsinya
adalah mendorong atau menggerakkan jiwa kita sehingga mau melakukan sesuatu.
3)
Minat dan Bakat.
Hal
yang disenangi akan mendorong siswa untuk belajar. Anak terlahir dengan anugrah
kemampuan yang berbeda-beda. Maka dari itu, tugas guru adalah membantu siswa
mengembangkan kemampuan mereka. Siswa yang mempunyai kemampuan menggambar
sebaiknya diberi stimulus lebih dalam menggambar. Dan juga siswa yang mempunyai
kemampuan menggambar sebaiknya tidak diberi pelajaran menyanyi lebih banyak.
Maka dari itu, sebaiknya sekolah memberikan ekstrakurikuler sebagai wadah
pengembangan bakat minat siswa.
2.
Faktor Eksternal
Lingkungan, meliputi:
a. Lingkungan sekolah
1)
Lingkungan Fisik:
Sekolah yang baik seharusnya dijauhkan dari kebisingan dan polusi.
2)
Lingkungan sosial:
Tata letak sekolah juga harus diperhatikan. Sebaiknya tidak didepan pasar,
mall, tempat karaoke, atau tempat hiburan yang lain.
b. Lingkungan sosial masyarakat. Kondisi lingkungan
masyarakat tempat tinggal siswa akan memengaruhi belajar siswa
c. Lingkungan keluarga. Lingkungan ini sangat memengaruhi
kegiatan belajar. Ketegangan keluarga, sifat-sifat orangtua, demografi keluarga
(letak rumah), pengelolaan keluarga, semuannya dapat memberi dampak terhadap
aktivitas belajar siswa.
B. MENGATUR KONDISI
KELAS DAN IKLIM BELAJAR SISWA
Pengaturan lingkungan belajar sangat diperlukan agar
anak mampu melakukan kontrol terhadap pemenuhan kebutuhan emosionalnya.
Lingkungan belajar yang memberi kebebasan kepada anak untuk melakukan
pilihan-pilihan akan mendorong anak untuk terlibat secara fisik, emosional, dan
mental dalam proses belajar, dan karena itu, akan dapat memunculkan kegiatan-kegiatan
yang kreatif-produktif. ltulah sebabnya, mengapa setiap anak perlu diberi
kebebasan untuk melakukan pilihan-pilihan sesuai dengan apa yang mampu dan mau
dilakukannya.
Pengelolaan kelas yang baik, dapat dilakukan dengan 6
cara sebagai berikut;
1.
Penciptaan lingkungan
fisik kelas yang kondusif
2.
Penataan ruang
belajar sebagai sentra belajar
3.
Penciptaan atmosfir
belajar yang kondusif
4.
Penetapan strategi
pembelajaran dan
5.
Pemanfaatan media dan
sumber belajar
6.
Penilaian hasil
belajar.
Lingkungan fisik di
kelas meliputi pengaturan ruang belajar yang didesain sedemikian rupa sehingga
tercipta kondisi kelas yang menyenagkan dan dapat menumbuhkan semangat dan
keinginan untuk belajar dengan baik seperti: pengaturan meja, kursi, lemari,
gambar-gambar afirmasi, pajangan hasil karya siswa yang berprestasi, alat-alat
peraga, media pembelajaran dan jika perlu di iringi dengan nuansa musik yang
sesuai dengan materi pelajaran yang diajarkan atau nuansa musik yang dapat membangun
gairah belajar siswa. Design ruang kelas yang baik dimaksudkan untuk
menanamkan, menumbuhkan, dan memperkuat rasa keberagamaan dan perilaku-perilaku
spritual siswa. Dengan ruang kelas yang baik, para siswa dapat berkomunikasi
secara bebas, saling menghormati dan menghargai pendapat masing-masing.
Penyusunan dan
pengaturan ruang belajar hendaknya memungkinkan anak duduk bekelompok dan
memudahkan guru bergerak secara leluasa untuk membantu dan memantau tingkah
laku siswa dalam belajar. Dalam pengaturan ruang belajar, hal-hal berikut perlu
diperhatikan yaitu:
1.Ukuran
bentuk kelas
2.Bentuk
serta ukuran bangku dan meja
3.Jumlah
siswa dalam kelas
4.Jumlah
siswa dalam setiap kelompok
5.Jumlah
kelompok dalam kelas
6.Komposisi
siswa dalam kelompok (seperti siswa yang pandai dan kurang pandai, pria dan
wanita).
Tempat duduk
merupakan fasilitas atau barang yang diperlukan oleh siswa dalam proses
pembelajaran terutama dalam proses belajar di kelas di sekolah formal.tempat
duduk dapat mempengaruhi proses pembelajaran siswa, bila tempat duduknya bagus,
tidak terlalu rendah, tidak terlalu besar, bundar, persegi empat panjang,
sesuai dengan keadaan tubuh siswa. Maka siswa akan merasa nyaman dan dapat
belajar dengan tenang.
Hal ini penting
karena guru perlu menyusun atau menata tempat duduk yang dapat memberikan
suasana yang nyaman bagi para siswa
1. Pengaturan meja-kursi
Susunan meja-kursi hendaknya memungkinkan siswa-siswa
dapat saling berinteraksi dan memberi keluasaan untuk terjadinya mobilitas
pergerakan untuk melakukan aktivitas belajar. Meja-kursi juga hendaknya dapat
digerakkan, dipindahkan, dan disusun secara fleksibel. Beri keleluasaan siswa
mengatur sendiri atau memilih meja-kursinya masing-masing,
Berikut dikemukakan beberapa bentuk penataan meja-kursi
yang dapat dipilih oleh guru guna meningkatkan keterlibatan dan interaksi antar
siswa dalam proses pembelajaran.
a.
Model huruf U
Model
susunan meja-kursi model U dapat dipilih untuk berbagai tujuan. Dalam model
ini, para siswa memiliki alas untuk menulis dan membaca, dapat melihat guru
atau media visual dengan mudah, dan memungkinkan mereka bisa saling berhadapan
langsung.
b.
Model Corak Tim
Pada
model ini, meja-meja dikelompokkan setengah lingkaran atau oblong di ruang
tengah kelas agar memungkinkan guru melakukan interaksi dengan setiap tim
(kelompok siswa). Guru dapat meletakkan kursi-kursi mengelilingi meja-meja guna
menciptakan suasana yang akrab. Siswa juga dapat memutar kursi melingkar
menghadap ke depan ruang kelas untuk melihat guru atau papan tulis.
c.
Model Meja Konferensi
Model
ini cocok jika meja relatif persegi panjang. Susunan ini mengurangi dominasi
pengajar dan meningkatkan keterlibatan siswa.
d.
Model Lingkaran
Dalam
model ini, tempat duduk siswa disusun dalam bentuk lingkaran sehingga mereka
dapat berinteraksi berhadap-hadapan secara langsung. Model lingkaran seperti
ini cocok untuk diskusi kelompok penuh.
e.
Model Fishbowl
Susunan
ini memungkinkan guru melakukan kegiatan diskusi untuk menyusun permainan
peran, berdebat, atau mengobservasi aktivitas kelompok. Susunan yang paling
khusus terdiri atas dua konsentrasi lingkaran kursi. Guru juga dapat meletakkan
meja pertemuan di tengah-tengah, dikelilingi oleh kursi-kursi pada sisi luar.
f.
Model Breakout
groupings
Jika
kelas cukup besar atau jika ruangan memungkinkan, letakkan meja-meja dan kursi
di mana kelompok-kelompok kecil siswa dapat melakukan aktivitas belajar yang
didasarkan pada tugas tim. Tempatkan susunan pecahan-pecahan kelompok saling
berjauhan sehingga tim-tim itu tidak saling mengganggu.
C. KONDISI YANG
MEMPENGARUHIU IKLIM BELAJAR
Lingkungan sistem pembelajaran meliputi berbagai hal
yang dapat memperlancar proses belajar mengajar dikelas seperti: Kompetensi dan
kreativitas guru dalam mengembangkan materi pembelajaran, penggunaan metode dan
strategi belajar yang bervariasi, pengaturan waktu dalam proses belajar mengajar
dan pengunaan media dan sumber pembelajaran yang sesuai dengan tujuan
pembelajaran serta penentuan evaluasi untuk mengukur hasil belajar siswa.
Keselurahan aspek yang dijelaskan di atas didesain sedemikian rupa dalam proses
pembelajaran.
Yang menjadi penekanan dalam penciptaan atmosfir
belajar yang kondusif adalah penciptaan suasana pembelajaran yaitu :
1.
Menyenangkan dan
mengasyikkan
Menyenangkan
dan mengasyikkan terkait dengan aspek afektif perasaan. Guru harus berani
mengubah iklim dari suka ke bisa. Guru hendaknya dapat mengundang dan
mencelupkan siswa pada suatu kondisi pembelajaran yang disukai dan menantang
siswa untuk berkreasi secara aktif. Rancangan pembelajaran terpadu dengan
materi pembelajaran yang kontekstual harus dikembangkan secara terus menerus
dengan baik oleh guru. Untuk keperluan itu guru-guru dilatih:
a.
Bersikap ramah
b.
Membiasakan diri
selalu tersenyum
c.
Berkomunikasi dengan
santun dan patut
d.
Adil terhadap semua
siswa
e.
Senantiasa sabar
menghadapi berbagai ulah dan perilaku siswanya.
f.
Menciptakan kegiatan
belajar yang kreatif melalui tema-tema yang menarik yang dekat dengan kehidupan
siswa.
2.
Mencerdaskan dan
menguatkan
Mencerdaskan
bukan hanya terkait dengan aspek kognitif, melainkan juga dengan kecerdasan
majemuk (multiple intelligence). Tidak kalah pentingnya adalah bagaimana guru
dapat mengalirkan pendidikan normatif ke dalam mata pelajaran sehingga menjadi
adaptif dalam keseharian anak. Inilah yang merupakan tujuan utama dari fundamen
pendidikan kecakapan hidup (life skill).
Beberapa praktik penciptaan atmosfir belajar yang baik
(good practice) dikemukakan berikut ini.
a.
Sebelum memulai
pelajaran, dengan sikap yang ramah dan penuh senyuman guru menyapa beberapa
orang siswa dan menanyakan mengenai keadaan dan kesiapan masing-masing siswa
untuk belajar. Bahkan ada guru yang membuka pelajaran diawali dengan nyanyian
pendek dan selanjutnya menugaskan seseorang siswa melanjutkan lagu tersebut.
b.
Di awal pelajaran,
guru membiasakan siswa untuk berdoa secara bersama agar Tuhan senantiasa
memberikan kesehatan dan kemudahan dalam memahami pelajaran. Selanjutnya, guru
juga tidak lupa memberikan pencerahan-pencerahan rohani kepada para siswa agar
mereka senantiasa saling menghormati dan menghargai, kejujuran dan tanggung
jawab bagi setiap tugas yang diberikan.
c.
Selama proses
pembelajaran berlangsung, guru senantiasa mengembangkan bentuk komunikasi yang
efektif, agar siswa dapat bertanya atau mengemukakan pendapat dalam suasana
yang menyenangkan dan merasa tidak tertekan, tidak takut atau merasa bersalah.
DAFTAR PUSTAKA
Aunurrahman.
2010. Belajar dan Pembelajaran. Bandung : Penerbit AlfabetaSlameto
Syah,
Muhibbin. 2003. Psikologi Belajar. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada
Terima kasih materinya membantu kak...
BalasHapusTrimakasih kakak
BalasHapusMateri ny bagus
BalasHapusTrimakasih telah berbagi informasi, materi ini sangat bermanfaat bagi saya
BalasHapus